Saturday, 23 October 2010

Bisnis Properti Masih Terpusat di Jabodetabek


Ramdhania El Hida
Jakarta - Perkembangan pembangunan properti di Indonesia masih berpusat di Jabodetabek karena permintaan yang masih besar. Di wilayah ini, Jakarta masih menjadi basis pusat bisnis properti Indonesia.

Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Handi Pranata di acara REI Expo 2010 di JCC, Senayan, Jakarta, Sabtu (23/10/2010).

"Jabodetabek masih paling besar, mayoritas masih di Jakarta," ujarnya.

Meskipun begitu, saat ini sudah ada beberapa pengembang properti yang berekspansi ke banyak daerah, bahkan hingga Papua.

"Di Papua sudah ada 10-20 lebih developer. Bahkan ada pengembang yang khusus membangun rumah-rumah untuk karyawan PT Freeport. Di Surabaya pun pengembangannya cukup pesat. Pokoknya selagi ada penduduknya pasti mereka (developer) akan datang," jelasnya.

Untuk meningkatkan pertumbuhan pembangunan properti tersebut, Handi menilai perlunya dorongan alternatif baru dan inovasi, terutama dari sisi pembiayaan. Oleh karena itu perlunya dorongan dari perbankan syariah. Pasalnya, potensi pembiayaan dari sektor tersebut masih cukup besar mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

"Di Malaysia saja yang penduduk muslimnya sekitar 70%, pembiayaan KPR dari syariah sudah 15%. Indonesia yang mayoritas muslim, baru 3%. Jadi potensialnya besar," jelasnya.

Hal tersebut, ungkap Handi, karena masih banyak penduduk Indonesia yang belum mengerti istilah dalam perbankan syariah. Apalagi masih ada pula anggapan bahwa bisnis syariah hanya diperbolehkan untuk umat Muslim.

"Ini karena banyak gak ngerti. Kan istilahnya susah-susah tuh. Apalagi banyak yang beranggapan syariah hanya untuk Islam. Padahal, tidak demikian," pungkasnya. (- detikFinance - nia/dnl)